BANK PADI SEBAGAI FENOMENA BARU DALAM PEMBERDAYAAN PETANI

Posted on Maret 4, 2009. Filed under: Uncategorized |

ausi-2BANK PADI SEBAGAI FENOMENA BARU DALAM PEMBERDAYAAN PETANI

Oleh : Dra. Bagas Yulistyati S, MSi
Anggota Tim Kajian Ambtenar Pemprop. Jatim

“Bank padi”. Kedengarannya kata ini masih sangat asing di telinga kita, baik di telinga masyarakat pedesaan sendiri yang notabenenya petani yang kesehariannya tidak jauh dari pengelolaan padi, maupun bagi telinga masyarakat kota yang kurang mengenal padi kecuali beras. Terminology “bank” sering digunakan untuk suatu system kelembagaan yang mempunyai kegiatan identik dengan penyimpanan, peminjaman yang disertai dengan pengelolaan atau pemprosesan sehingga mempunyai konsekwensi bunga dan biaya atas jasa tersebut. Dengan demikian “bank padi” ditujukan pada komoditas padi sebagai obyeknya.

Menurut sejarah terbentuknya konsep “bank padi”, terbentuk secara alamiah dari tataran praktek petani di Desa Wringinanom Kecamatan Gambiran Kabupaten Banyuwangi. Menurut penuturan pengelola KUD Tri Karya di Kabupaten Banyuwangi tempat lahirnya konsep “bank padi”, berawal dari keprihatinan pengurus KUD Tri Karya melihat hasil panen melimpah dan para petani kesulitan dalam pengelolaan pasca panen. Apalagi ketika musim panen curah hujan cukup tinggi, sehingga para tengkulak menggunakan kesempatan untuk menekan dan menjatuhkan harga padi dengan seenaknya. Berangkat dari hal tersebut, maka KUD Tri Karya memberanikan diri untuk menampung hasil panen (padi) dari petani anggota KUD Tri Karya yang dihimpun melalui kelompok-kelompok petani maupun perorangan dengan cara penitipan padi pada unit pengadaan pangan.

Selanjutnya pada tahun 1999, Japan International Cooperaif Aliance (JICA) dan Kementerian Negara Koperasi dan PKM serta Dinas Koperasi dan PKM Jatim mengadakan kunjungan ke KUD Tri Karya tertarik pada kegiatan penitipan padi ini. Kemudian JICA bersama Kantor Kementerian Negara Koperasi dan PKM merespon baik serta menindaklanjuti dengan menyepakati bahwa system pengelolaan titipan padi tersebut diistilahkan dengan “Bank Padi”, kemudian dilaksanakan dengan program Pengembangan Usaha Pengadaan Pangan Koperasi dengan Sistem Bank Padi (PUPPK-SBP) dan KUD Tri Karya – Banyuwangi dan KUD Mega Gotong-Royong – Mojokerto sebagai pilot projectnya.

PUPPK-SBP adalah kegiatan usaha pengelolaan komoditas gabah atau beras untuk meningkatkan nilai tambah yang dapat dinikmati baik oleh petani maupun Koperasi. Dalam tataran praktek PUPPK-SBP adalah sebuah KUD dengan beberapa unit usaha yang bekerja secara sinergi. Unit usaha tersebut meliputi usaha simpan pinjam, pengadaan saprodi, Rice Milling Unit (RMU) dan ”Bank Padi” sendiri yang berfungsi sebagai akselerator karena ”Bank Padi” akan membeli dan menyimpan gabah dari petani dengan harga yang berlaku di pasar dan akan diberi bunga 1% per bulan jika waktu penyimpanan diatas 3 bulan.

Berdasarkan pengamatan penulis langsung dari “Bank padi” di Banyuwangi, dapat diceritakan bahwa KUD Tri Karya mempunyai beberapa unit usaha yaitu usaha simpan pinjam, usaha sarana produksi pertanian, usaha penggilingan padi (RMU), serta unit usaha pengadaan pangan dimana “Bank Padi” merupakan sub sistem dari unit pengadaan pangan dan berfungsi sebagai akselerator.

Dan, KUD Tri Karya telah mampu menjalankan kegiatan pengadaan pangan dengan sistem ”Bank Padi” sejak tahun 1999 dengan kinerja yang makin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat dari jumlah petani anggota sebanyak 4.045 orang, dan sampai bulan Mei 2004 anggota yang sudah melakukan her-regrestasi sebagai anggota aktif mencapai 162 orang petani dengan total gabah disimpan sejumlah 69,487 ton atau senilai 78,2 juta rupiah.

Sedangkan untuk operasionalnya, Bank Padi KUD Tri Karya memiliki fasilitas pasca panen antara lain berupa : Gudang penyimpan padi kapasitas 600 ton, lantai jemur kapasitas 65 ton, 2 unit RMU kapasitas 16 ton, 2 unit dryer kapasitas 20 ton, silo kapasitas 30 ton dan 2 unit mobil pick up kapasitas 2 ton. Adapun Gudang, lantai jemur dan mobil merupakan asset KUD, sedangkan RMU, dryer dan silo merupakan bantuan hibah dari pemerintah pusat.

Keuntungan yang diperoleh para petani dengan memanfaatkan bank padi ini antara lain : (1) para petani tidak perlu terburu-buru menjual hasil panen, karena dapat menitipkan pada “bank padi” dan akan diambil jika harga sudah sesuai dengan keinginan petani sehingga tidak khawatir harga akan jatuh jika panen berlimpah atau panen raya selain itu juga akan terhindar dari system ijon dengan para tengkulak. (2) Petani tidak membutuhkan sarana gudang dan lantai penjemuran padi karena dapat memanfaatkan sarana gudang dan lantai jemur milik KUD. (3) Petani dapat langsung mempercayakan kepada KUD untuk pemrosesan (pengeringan, penggilingan dan pengemasan) padi menjadi beras dengan mutu tinggi serta mencarikan pasar. (4) Petani dapat memanfaatkan unit usaha simpan pinjam dan unit usaha saprotan untuk menjalankan kegiatannya.

REPLIKASI BANK PADI DI JAWA TIMUR.

Melihat keberhasilan dan manfaat program PUPPK-SBP bagi petani melalui peningkatan harga padi, maka secara bertahap mulai tahun anggaran 2005 Pemerintah Propinsi Jatim melalui Dinas Koperasi dan PKM merencanakan untuk mengembangan atau merplikasikan PUPPK-SBP dengan nama “Bank Padi”. Karena “Bank Padi” sudah merupakan kebutuhan mendesak untuk memberdayakan petani terhindar dari tengkulak dan system ijon. Menurut Dinas Koperasi dan PKM Jatim, setiap tahun petani dapat memproduksi padi sekitar 8,80 juta ton atau 5,60 juta ton setara beras. Dari produksi tersebut, kebutuhan pangan selama satu tahu sekitar 3,50 juta ton setara beras atau 62,50%, sedang sisanya sebesar 2,10 juta ton atau 37,50% merupakan surplus produksi. Permasalahan mendasar dalam produksi pertanian khususnya komoditi padi di Jatim adalah panen raya berlangsung pada bulan Pebruari s/d April bersamaan dengan musim penghujan sehingga akan berdampak pada komoditas hasil panen petani.

Sebagai langkah awal telah direncanakan dan dianggarkan dari dana APBD Propinsi Jatim sebesar Rp.6,6 milyar untuk mengembangkan dan mereplikasi 10 “bank padi” pada 10 Kabupaten/Kota sentra produksi komoditi padi di Jawa Timur. Dana bantuan permodalan dan sarana untuk investasi tersebut akan dipinjamkan secara bergulir dengan bunga 6% pertahun sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur no.61 tahun 2003 tentang Pengelolaan Dana Bergulir yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Propinsi Jawa Timur.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: