MENYIKAPI TINGGINYA HARGA BBM

Posted on Maret 5, 2009. Filed under: Uncategorized |

windows-photo-gallery-wallpaper6

MENYIKAPI TINGGINYA HARGA BBM
Oleh : Dra. Bagas Yulistyati S, Msi
Anggota Tim Kajian Ambtenar pemprop. Jatim

Sebuah kebijakan makro ekonomi yang tidak populis baru saja diambil oleh Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu atau tertuang dalam Peraturan Presiden No. 55 tahun 2005 tentang Harga Jualan Eceran Bahan Bakar Minyak Dalam Negeri yang mulai efektif berlaku tanggal 1 Oktober 2005, yaitu suatu kebijakan mencabut sebagian subsidi BBM, karena selama ini yang menikmati subsidi BBM justru kalangan menengah ke atas. Konsekwensi kebijakan tersebut adalah masyarakat harus membayar lebih banyak untuk BBM atau dengan bahasa awam masyarakat merasakan harga BBM menjadi naik. Kenaikan tersebut tidak tanggung-tanggung antara 80 s/d 125% sungguh suatu kenaikan yang cukup fantastis dan berat dirasakan oleh seluruh kalangan terutama kalangan menengah ke bawah.

Terlepas dari pro-kontra atas kebijakan tersebut, mau tidak mau suka maupun tidak suka keadaan itu harus dihadapi oleh masyarakat yang baru saja terbangun dan merintis setelah terhempas oleh krisis moneter yang berlanjut pada krisis ekonomi dimulai pertengahan tahun 1997 dan mencapai puncaknya tahun 1998.

Memasuki penghujung tahun 2005 Bangsa Indonesia sepertinya memasuki krisis ekonomi babak ke-2, krisis kali ini lebih dipicu oleh factor eksternal dengan melambungnya harga minyak dunia, menurut Jusuf Anwar Menteri Keuangan kita bulan April 2004 harga minyak dunia masih kisaran 21 $ US terus Mei meningkat 27,% $ US dan September mencapai 40 $ US dan akhirnya sekarang mencapai kisaran 70 $ US per barel. Sungguh sangat ironis Indonesia yang kaya akan minyak dan satu-satunya negara ASIA yang termasuk anggota organisasi negara pengekpor minyak (OPEC) bahkan putra terbaik Bangsa Indonesia pernah menjadi ketua OPEC yaitu Subroto tidak dapat merasakan tingginya harga minyak dunia.

Terlepas dari siapa yang salah dalam pengeloaan sumber minyak kita, yang jelas rakyat harus menanggung akibatnya dan akan terasa semakin berat lagi jika dalam kondisi seperti ini Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah tidak dapat menyikapi dan salah langkah dalam mengambil kebijakan.

Dampak yang langsung dirasakan oleh masyarakat adalah melambungnya harga-harga kebutuhan pokok sehari-hari naik rata-rata 20% s/d 30% dan yang lebih mengagetkan bagi masyarakat adalah membumbungnya harga BBM yang hampir diluar jangkauan masyarakat menengah kebawah. Sehimgga kebijakan yang belum lama tersebut telah mempengaruhi dan merubah perilaku masyarakat terutama masyarakat menengah dan bawah, kelompok ini sudah mulai realistis dan efisien dalam menyikapi kebutuhan pokok mereka terutama kebutuhan akan BBM dan biaya transportasi.

Kelompok menengah yang dulunya memandang meskipun dengan mengendarai R-4 yang sudah tua tetapi terawat dirasakan lebih nyaman dan efisien dibanding dengan angkot yang kurang layak dan inefisien karena kurang nyaman dan harus berganti-ganti angkot sesuai jurusannya. Dengan melambungnya harga premium dari Rp.2.400,00 menjadi Rp. Rp.4.500,00 atau mendekati 100% dan solar dari Rp 2.000,00 menjadi Rp.4.300,00 kelompok ini tidak dapat lagi berpandangan seperti tersebut diatas. Mereka membuat perhitungan secara sederhana, jika sebelum adanya kenaikan BBM dengan R-4 kebutuhan BBM perbulannya hanya Rp.500 ribu tetapi setelah kenaikan BBM pengeluaran untuk BBM bisa mencapai Rp. 800 ribu s/d Rp.900 ribu per bulan.

Mereka menghitung untung-ruginya dengan pengeluaran sebasar itu, kebanyakan mereka memilih mengandangkan atau mungkin ada yang menjual R-4 nya dan beralih mengambil kredit sepeda motor. Dengan ansuran per bulannya yang hanya Rp.500 ribu selama 3 tahun meraka sudah dapat kendaraan R-2 baru yang sangat efisien dan murah daripada naik angkot yang kurang nyaman dan tidak efisien apalagi ongkosnya juga naik sebasar 30% s/d 40%.

Data secara kasar atas perubahan perilaku masyarakat ini, tercermin dari data jual-beli pada showroom mobil 77 ( Surya 28 Oktober ’05) dalam menjelang lebaran yang biasanya masyarakat memerlukan kendaraan R-4, tetapi lebaran kali ini justru semakin banyak masyarakat menjual mobil dibandingkan membeli mobil. Jika sebelumnya 30 unit mobil terjual tiap bulan tetapi menjelang lebaran justru hanya terjual 15 unit s/d 20 unit dan yang menjual mobil dalam 1 hari bisa mencapai 10 orang sedang yang membeli hanya 2 orang per hari. Dalam hal ini pengaruh kenaikan BBM sangat signifikan terbukti mobil yang dicari adalah hemat BBM seperti mobil bermesin di bawah 2000 CC dan mobil dengan BBM jenis solar sudah tidak diburu lagi. Namun dalam jual-beli kendaraan R-2 justru terjadi sebaliknya, menurut data pada salah satu usaha jual-beli motor bekas di kawasan Manyar Kertoharjo sejak 1 Oktober ’05 atau menjelang lebaran ini sudah terjual 25 unit R-2 meningkat dari rata-rata perbulan sebelumnya yang hanya 15 unit, padahal situasi yang sama tahun lalu hanya terjadi peningkatan dari 10 unit menjadi 13 unit.

Pilihan masyarakat mengganti R-4nya dengan R-2 tidak berpengaruh pada pengusaha angkot, tetapi dengan naiknya ongkos angkot yang relatif tinggi ( 30% s/d 40%) bagi masyarakat menengah ke bawah tentu saja dirasakan sangat tinggi apalagi pendapatan mereka tidak naik. Kelompok inipun mulai mencari alternatif yang lebih murah dan pilihan mereka jatuh pada komuter meskipun terikat dengan waktu yang ketat tetapi meraka merasa lebih murah karena untuk alat transportasi yang satu ini tidak dinaikkan ongkosnya. Peningkatan pengguna komuter sangat signifikan terutama pada jam sibuk. Komuter selalu penuh sesak dan berjubel, kondisi seperti ini tidak pernah dijumpai pada waktu sebelum BBM naik. Penulis memprediksikan angkot yang sejalan dengn rute komuter lambat laun akan ditinggalkan oleh costamernya. Trend seperti ini tentu saja akan memperberat permasalahan yang dihadapi perusahaan transportasi massal.

Kelesuhan yang dihadapi perusahaan transportasi Surabaya dan Sidoarjo tergambar dari kebijakan atau tindakan Organda yang memilih mengandangkan sekitar 40% armadanya, disebabkan adanya kebijakan Pemerintah menaikan tarif angkutan darat dibawah 50% sehingga tidak mampu mengimbangi kenaikan harga BBM dan kenaikan suku cadang dan operasional apalagi tidak diimbangi dengan load factor ( tingkat keterisian penumpang yang hanya 40% s/d 50%). Sungguh suatu keadaan sulit yang harus dihadapi pengusaha transportasi massal, disatu sisi mereka menghadapi tingginya biaya operasional dan BBM dan disisi lain dihadapi kenyataan daya beli masyarakat yang turun sehingga jika untuk menutupi keadaan tersebut dengan menaikkan ongkos tentu saja akan ditinggalkan pelanggannnya. Alat transportasi yang mulai ditinggalkan sebagian masyarakat adalah taxi, hal ini membuat salah satu perusahaan taxi di Surabaya terpaksa merubah strategi pemasaran dengan iklan berjalan yang ditempelkan dengan stiker berwarna menyala dan dengan tulisan besar “ diskon 20% ” di kaca depan maupun belakang. Hal ini terpaksa ditempuh semata-mata untuk menarik pelanggannya kembali.

Data dari UPT terminal Joyoboyo dalam sepekan terakhir (Minggu ke-3 bulan Oktober ‘05) ada 1.200 unit angkot yang mangkal turun sekitar 10% s/d 20%, bahkan angkot yang biasanya tiap hari 4 – 5 trip mengurangi menjadi 2-3 trip, sedangkan armada bus kota yang biasanya ngetem di Joyoboyo antara 90 s/d 100 unit tinggal 60%.

Meskipun berat, akhirnya masyarakat menengah dan bawah sudah mulai mencoba untuk menyesuaikan dan merubah pola kehidupannya menjadi lebih efisien dan penuh perhitungan semata-mata bertujuan agar tetap dapat bertahan dalam menjalani roda kehidupan ini. Namun permasalahan ini belum selesai bagi pemerintah khusunya Pemerintah Kota Surabaya dan Kabupaten Surabaya, kedua pemerintahan ini harus berpikir keras untuk menyelamatkan perusahaan transportasi dan menyediakan angkutan massal yang nyaman dan terjangkau bagi masyarakat. serta menyelamatkan kesegaran lingkungan dari pencemaran kendaraan bermotor khususnya R-2 yang cenderung meningkat dengan signifikan yang dalam jangka panjang justru akan mempercepat pengurasan sumber minyak bumi atau pemborosan karena kebutuhan yang meningkat dan pada akhirnya harga minyak dunia akan tetap tinggi. Keadaan ini akan semakin jauh dari harapan dikeluarkannnya PP. No. 55 tahun 2005 yang dengan menaikkan harga BBM berharap akan mengurangi pemakaian energi khususnya BBM secara boros dan dapat meningkatkan penggunaan energi alternatif di luar BBM. Energi alternatif baru mulai dipikirkan pemborosan energi sudah dimulai karena meningkatnya R-2 secara signifikan.

Pada saat ini kebutuhan transportasi massal di Surabaya dilayani oleh : (1) bus kota (patas dan ekonomi) dan memiliki 19 rute pada jalan-jalan utama yang didukung oleh 5 terminal yang representatif ( Purabaya, Osowilangun, jembatan merah, Joyoboyo dan Bratang), (2) angkot (bemo) dan angguna merupakan alat transportasi publik yang paling ekonomis dan rutenya cukup mencapai 57 rute dengan didukung 14 terminal angkot serta bisa mencapai jalan-jalan kecil. (3) taksi, ada banyak perusahaan taksi di Surabaya dengan tariff tertentu sesuai jarak tempuh yang dilalui. (4) KA. Komuter dengan frekwensi 5 kali Sidoarjo – Surabaya (PP) dan 5 kali Surabaya – Sidoarjo (PP) dan didukung oleh 10 shalter/terminal Surabaya-Sidoarjo yang meliputi : Sby Kota, Sby Gubeng, Wonokromo, Jemursari, waru, Sawotratap, Gedangan, Buduran, Pagerwojo dan Sidoarjo
.

Kedepan, dalam penyediaan sarana transportasi massal yang nyaman dan murah, Pemerintah Kota Surabaya sudah memilih busway sebagaimana yang tertuang dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya Tahun 2005 s/d 2015, menurut Ir. Tri Siswanto MM ketua Bapeko Surabaya pilihan ini didasarkan agar tidak mengganggu eksistensi lin yang ada saat ini dan mengurangi kemacetan. Tetapi pilihan ini tentu saja tidak akan dapat terwujud dalam waktu tiga atau empat tahun kedepan mengingat pilihan ini sangat berat dan mahal sehingga Pemerintah Kota harus mencari investor, selain itu juga membutuhkan waktu lama untuk membangun sarana jalan busway yang memang membutuhkan jalur tersendiri.

Dalam harian Surya tanggal 6 Oktober 2006, penulis pernah tidak setuju terhadap wacana adanya pembatasan kendaraan R-4 yang berumur tua dengan alasan kendaraan tersebut akan hilang dengan pertimbangan pemiliknya sendiri, sekarang sudah terbukti kendaraan tua sudah mulai jarang kelihatan di jalanan Surabaya. Tetapi sebagai gantinya adanya peningkatan R-2 yang sangat tinggi, dalam jangka pendek mungkin hal ini dapat menyelesaikan masalah transportasi bagi golongan menangah tetapi dalam jangka panjang akan cepat menghabiskan BBM kita mengingat BBM ini merupakan sumberdaya yang tidak terbarui, apalagi sumber-sumber energi yang lain belum digarap. Menurut Hanan Nugroho – Bappenas (05) konsumsi BBM Bangsa Indonesia terus naik sekitar 5%/ tahun, dan peningkatan konsumsi ini tidak diikuti peningkatan kapasitas kilang.produksi minyak mentah kita telah lama mencapai puncaknya. Kini sumur-sumur tua yang masih menjadi andalan menyisakan produksi yang terus menurun.

Penulis sependapat dengan pendapat Kresnayana Yahya pakar statitik ITS yang menawarkan peremajaan kendaraan bersubsidi, artinya Pemerintah Kota memberikan pinjaman dengan bunga ringan kepada para pengusaha transportasi untuk menggantikan 5.400 lin diganti dengan 2.500 minibus. Hal ini bertujuan untuk efisiensi dan penghematan BBM, karena kapasita minibus mencapai 30 orang sedangkan bemo maksimal 15 orang lengkap dengan sopir dan kernetnya, padahal penggunaan BBMnya sama.

Selain itu Pemerintah Kota dapat meningkatkan sharing kerjasama dengan Pemerintah Propinsi dan PT.KAI untuk lebih mengoptimalkan komuter dengan jalan meningkatkan frekwensi jadwal keberangkatannya. Dari 10 shelter antara Surabaya-Sidoarjo PP didorong untuk mempercepat mengembangkan komuternya sebagaimana telah direncanakan sampai Mojokerto, Gresik, Lamongan dan Bangkalan dan khusus untuk jalur Sidoarjo – Surabaya bisa menambah gerbong dan frekwensi operasionalnya dengan tujuan untuk mengurangi R-2.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: