Penguatan klaster Industri Alaskaki.

Posted on Maret 5, 2009. Filed under: Uncategorized |

            Penguatan klaster Industri Alaskaki.

 

Dra. Bagas Yulistyati Setyawan, MSi

Kepala Seksi Pengembangan Teknologi Proses Produksi

Disperindag Prop. Jatim

 

 

 Indonesia pernah  mengukir prestasi dalam pengembangan industri alas kaki dengan menduduki peringkat ketiga di dunia sebagai negara eksportir alas kaki, namun pada saat ini prestasi tersebut telah menurun menjadi peringkat ke delapan. Prestasi tersebut dapat dicapai karena didukung dengan potensi yang dimiliki,  Indonesia memiliki potensi pendukung industri alas kaki yang cukup memadai seperti : bahan baku kulit mentah dengan kualitas tinggi dan sumberdaya manusia sebagai tenaga kerja yang cukup banyak dengan upah buruh atau tenaga kerja yang kompetitif.

Propinsi Jawa Timur memiliki potensi industri alas kaki yang cukup tinggi, sehingga industri alas kaki telah ditetapkan sebagai salah satu industri prioritas yang dikembangkan dengan pendekatan model klaster atau aglomerasi yaitu pengelompokan industri inti, penunjang, industri penunjang dan jasa penunjang lainnya dan industri penyedia infrastruktur dan kelembagaan yang saling terkait dan mendukung peningkatan efisiensi sehingga tercipta daya saing yang tinggi.  Klaster Industri Alas Kaki  berjumlah 66 Unit tersebar di Kabupaten Gresik 3 klaster,    Banyuwangi 1 klaster,  Bangkalan 1 klaster, Sidoarjo 5 klaster, Malang 1 klaster, Mojokerto 14 klaster, Jombang 2 klaster serta Kota Surabaya  dan Mojokerto   masing-masing 7  Klaster dan 32 klaster.

Jumlah industri alas kaki Jawa Timur cukup tinggi, secara keseluruhan industri alas kaki dapat dikelompokkan kedalam :   (1)  Industri  besar berjumlah 33  Unit yang tersebar : di Kabupaten  Sidoarjo, Mojokerto dan Pasuruan masing-masing 5 unit; 4 Unit; 8 unit dan Gresik  3 unit serta Kota Mojokerto 7 unit dan Surabaya 6 unit. (2) Industri Kecil dan Menengah berjumlah  675  Unit  dan tersebar di Kabupaten : Magetan 27 IKM, Ponorogo 1 IKM, Mojokerto 29 IKM, Pasuruan 27 IKM, Bangkalan 1 IKM, Tulungagung 1 IKM, Lamongan 3 IKM, Nganjuk 1 IKM, Jombang 1 IKM dan Sidoarjo 518 IKM serta Kota Kediri 1 IKM, Surabaya 3 IKM, Malang   3 IKM, Mojokerto 83 IKM,

Sedangkan sebagai Industri pemasok khususnya industri penyamakan kulit berjumlah  129 unit yang tersebar pada    5 Kabupaten : Madiun 1 unit, Magetan dan Ponorogo 125 unit, Sampang  1 unit dan Kota Pasuruan dan Malang masing-masing 1 unit. Sedang industri pemasok lainnya seperti industri : lem, kain, laminating, mesin, visateri, tali sepatu, benang, foam, printing dll berjumlah 29 unit.

 

Adapun potensi pendukung industri alas kaki yang lain adalah Indonesian  Footwear Service Centre (IFSC), Pusat Pendidikan Promosi Ekonomi Daerah (P3ED), Balai Diklat Industri (BDI), Pasar Spesifik Sepatu atau Pusat Perkulakan Sepatu Trowulan yang dikenal dengan PPST di Mojokerto , BPTI Kulit dsb.

Meskipun Jawa Timur memiliki potensi yang cukup banyak dalam mendukung pengembangan industri alas kaki, Jawa Timur juga menghadapi banyak kendala yang menjadi permasalahan seperti :  (1) Masih terbatasnya tenaga terampil menjahit sepatu atau alas kaki; (2) Pemanfaatan akses pasar belum optimal; (3) Jalinan kemitraan industri besar ( Champion ) dengan industri kecil belum berjalan sebagaimana yang diinginkan industri kecil; (4) Teknologi pengolahan bahan baku masih terbatas sehingga kualitas bahan baku belum tinggi; (5) Desain sepatu atau alas kaki masih sederhana dan perlu ditingkatkan (6) Mahalnya biaya produksi hal ini disebabkan bahan baku masih impor, tuntutan kenaikan upah tenaga kerja dan dampak pelaksanaan otonomi daerah sehingga setiap kabupaten/kota mengeluarkan kebijakan sendiri-sendiri yang kurang mendukung terciptanya iklim usaha yang kondusif; (7) Masih rendahnya kesadaran berpromosi serta biaya promosi yang relative mahal; (8) Munculnya Negara pesaing baru seperti India dan Thailand menjadi ancaman bagi produk alas kaki Indonesia khususnya Jawa Timur .

            Meskipun dalam pengembangan industri alas kaki Pemprop. Jatim menghadapi banyak kendala, namun Pemprop. Jatim sudah mengambil langkah-langkah nyata dalam mengupayakan mengatasi permasalahan tersebut khususnya untuk peningkatan kualitas SDM seperti : (1) Mengadakan sosialisasi hasil  kajian dampak FTA terhadap daya saing industri alas kaki Jawa Timur ; (2) Pelatihan SDM instruktur / lembaga pelatihan industri alas kaki dalam bidang manajemen keuangan dan pemasaran serta dalam bidang Entrepreunership Motivation Training ( EMT ).

Sedangkan upaya untuk mengatasi permasalah secara keseluruhan dengan membentuk forum-forum spesifik dengan tujuan agar lebih intensif dan terfokus, forum yang sudah tersebut antara lain :  (a) Forum klaster industri sepatu; (b) Forum klaster industri pemasok; (c) Forum Klaster industri alas kaki (UKM) seperti Gabungan Pengusahan Sepatu (GPS); (d) Forum klaster industri pemasok (UKM). Sedangkan untuk menunjang pemasaran produk industri sepatu di bangun Pusat Perkulakan Sepatu Trowulan (PPST) dan diresmikan Menteri Perdagangan RI tanggal 7 Oktober 2007. PPST dibangun diatas lahan 3 Ha, tahap I telah dibangun  66 kios.

Langkah yang sudah diambil Pemprop. Jatim dalam menangkap peluang relokasi industri alas kaki dari China antara lain pengalihan atau relokasi kepada            8 mitra usaha di Jawa Timur yang akan menyerap tenaga kerja sebanyak  29.500 orang. Tahun 2007 Pemerintah Jawa Timur bersama pengusaha sudah mentargetkan pertumbuhan produksi sepatu 1.000.000 pasang per bulan dan tahun 2008 dengan investasi baru pertumbuhan produksi dinaikkan 1.000.000 pasang  lagi perbulan.

Dengan demikian  program kegiatan kedepan untuk pengembangan industri alas kaki diarahkan  untuk : (1) Penyediaan tenaga terampil menjahit sepatu sebanyak 6000 orang; (2) Meningkatkan akses pasar baik didalam maupun diluar negeri;            (3) Menciptakan jejaring atau kemitraan antara industri besar ( Champion ) dengan industri kecil; (4) Peningkatan kualitas bahan baku kulit dan distribusinya;                     (5) Meningkatkan kualitas desain sepatu sesuai selera pasar;  (6) Meningkatkan produktivitas dan effisiensi menuju Organisasi yang lebih baik dan profesional;             (7) Mengembangkan produk non sport shoes yang berkualitas; (8) Melakukan promosi dan mengikuti pameran produk local brand ke tingkat regional dan international;

Program dan kegiatan tersebut dirancang dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas industri alas kaki guna menangkap peluang pasar seperti :                      (1) Kebutuhan alas kaki dunia rata – rata mencapai 3, 98 milliar pasang senilai          US$ 47,8 milliar per tahun dan pangsa pasar Indonesia baru mencapai 3 %; (2) Pasar Uni Eropah dengan 450 juta jiwa; (3) Adanya Kebijakan anti dumping Uni Eropa terhadap impor alas kaki ( HS 6403 ) dari China ( 16,5 % ) dan Vietnam ( 10 % );         (4) Adanya Fasilitas GSP dari Uni Eropa yang diberikan kepada industri alas kaki Indonesia, dengan penurunan tarif sebesar 3,5 %; (5) Jaringan pasar yang luas serta adanya positive image terhadap produk alas kaki Indonesia di pasar Dunia;    (6) Pasar Amerika dan Jepang masih sangat menjanjikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: