STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI BERBASIS TEBU DI JAWA TIMUR

Posted on Maret 10, 2009. Filed under: Uncategorized |

STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI BERBASIS TEBU DI JAWA TIMUR
Oleh : Dra.Bagas Yulistyati S, MSi

Pemerintah Propinsi Jawa Timur telah menetapkan 4 (empat) industri yang dikembangkan dengan pendekatan klaster yaitu : Industri Berbasis Tebu (IBT), industri sepatu dan alas kaki dan perhiasan serta perkapalan. Khusus industri berbasis tebu dipilih karena didasarkan atas potensi tebu yang ada di Jawa Timur, produksi tebu tahun 2005 sebesar 15.506.586 ton dan produktivitas tebu mencapai 91,5 ton/Ha dengan rendemen 6,76% serta menghasilkan gula sebanyak 1.048.735 ton. Produksi gula tersebut telah memberikan kontribusi terhadap produksi gula nasional sebesar 47% sedangkan tahun 2006 meningkat menjadi 1.099.186,38 ton atau 6,32 ton/Ha dengan rendemen 7,34%. Apabila dilihat kebutuhan konsumsi gula masyarakat Jatim pada tahun 2005 sebesar 537.810 ton, maka Prop. Jatim telah surplus sebesar 510.925 ton.
Sejumlah gula tersebut hasil produksi dari 31 Pabrik Gula (PG) yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak kurang lebih 98.412 orang yang tersebar pada 16 Kabupaten/Kota di wilayah Jawa Timur.
Tanaman tebu adalah tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi artinya dari tanaman tersebut kita dapat mengambil manfaat sebanyak mungkin bukan hanya saripatinya yang akhirnya menjadi gula, melainkan masih banyak hasil samping seperti : tetes, ampas, blotong, pucuk tebu yang juga memiliki nilai eonomi.
Menurut J. Anton Winoto (Teknik Kimia UI), dalam proses produkasi di Pabrik Gula (PG) gula yang termanfaatkan hanya 5%, ampas tebu 90% dan selebihnya tetes tebu (molasse) dan air. Selama ini dari 90% pemanfaatan ampas tebu (sugar cane bagasse) yang dihasilkan masih terbatas untuk : makanan ternak, bahan baku pembuatan pupuk, pulp, particle board dan bahan bakar untuk boiler di PG.
Menurut Aris Toharisman peneliti P3GI ada beberapa hasil samping yang dihasilkan dari proses pabrikasi seperti gas karbon dioksida (CO2) yang dikeluarkan cerobong ketel. Di negara maju CO2 ditangkap dengan CO2 scrubber yang dipakai pada proses dekolorisasi nira yang kadang diubah menjadi CO2 kering atau dikenal dengan dry ice.
Proses pengolahan hasil samping semakin bernilai ekonomi tinggi, sehingga hasil atau produk samping kini populer dengan sebutan ko-produk (co-product).
Sebagai gambaran di dunia terdapat 1500 industri co-product yang menghasilkan 50 macam produk, negara Kuba, Brasil dan China merupakan negara yang paling banyak mengembangkan industri co-product.
Sedangkan industri co-product di Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak lama akan tetapi perkembangannya relatif lambat. Pada awal tahun 1990 an industri lilin (wax) dari blotong sudah berdiri di Jawa dan sudah diekspor, namun dalam perkembangannnya mengalami kebangkrutan karena harga pelarut yang terus meningkat sementara recovery lilin dari blotong relatif rendah.
Selain itu industri co-product dengan memanfaatkan tetes tebu berkembang menjadi industri alkohol, spirtus bumbu masak.
Pada saat ini di Indonesia telah memiliki 45 industri co-product dengan 14 jenis produk, namun 60% industri tersebut dimiliki oleh swasta yang tidak bergerak di industri gula yang mendapat masukan bahan baku dari pabrik gula. Kenyataan ini sebagai suatu ironi karena yang menikmati nilai tambah dari pengolahan co-product tebu adalah perusahaan non gula atau bukan industri gula. Suatu terobosan baru telah dilakukan oleh PT. Rajawali Nusantara (RNI) dengan memanfaatkan ampas tebu sebagai kanvas rem yang saat ini dalam taraf pengujian akhir dan siap diluncurkan ke pasar.
Memperhatikan potensi tebu yang sedemikian tinggi tersebut, sangatlah disayangkan dan rugi apabila kita hanya memfokuskan pada satu hasil gulanya saja, padahal kita bisa mendapatkan banyak manfaat sebagai hasil co-product. Sebagai gambaran komposisi rata-rata hasil samping industri gula di Indonesia menurut P3GI adalah : limbah cair 52,9%, blotong 3,5%, ampas 32,0%, tetes 4,5% dan gula 7,0% serta abu 0,1% .
Sehingga untuk memaksimalkan industri pengolahan berbasis tebu, pola klaster merupakan pilihan model yang tepat untuk pengembangan industri komoditi tersebut. Dalam pola ini seluruh stakeholder yang berkepentingan dan yang dapat mengambil manfaat dari tebu beserta turunannya bersinergi untuk memperkuat daya saing dan memperbesar nilai tambah sehingga mendapatkan hasil semaksimal mungkin.
Pemangku kepentingan industri berbasis tebu meliputi komponen : pelaku bisnis, institusi pemerintah dan asosiasi atau organisasi dari tingkatan hulu sampai hilir. Para stakeholder tersebut dengan difasilitasi Pemprop. Jatim mengikat diri kedalam satu kelompok masyarakat independen bernama MASKIBBU yang merupakan akronim dari Masyarakat Klaster Industri Berbasis Tebu.
Sejarah terbentuknya MASKIBBU diawali oleh terbentuknya working group sebagai mitra dalam mengembangkan klaster industri berbasis tebu. Dalam perjalanannya working group tersebut memfasilitasi terbentuknya masyarakat klaster industri berbasis tebu atau kemudian disingkat menjadi MASKIBBU yang beranggotakan asosiasi profesi, perbankan dan koperasi, tenaga profesional, pelaku industri, petani tebu, praktisi, peneliti, akademisi dan pemerhati atau siapapun yang peduli terhadap eksistensi, kemajuan dan pengembangan industri berbasis tebu dari tingkat hulu sampai hilir serta sektor jasa dan industri penunjangnya. Dengan tujuan mengakomdir dan mensinergikan seluruh kepentingan stakeholders serta mendorong anggotanya agar dapat maju bersama dengan semboyan growing together not killing others dan dapat menjadi fasilitator untuk mencari solusi apabila antar anggota terdapat perbedaan kepentingan yang saling berbenturan dengan prinsip win-win solutions sehingga dapat berdaya saing di pasar global serta memberi masukan kepada pemerintah untuk pengambilan kebijakan.
MASKIBBU dideklarasikan di Surabaya pada tanggal 21 Nopember 2007, dengan visi yang ingin dicapai adalah terwujudnya industri berbasis tebu yang tangguh dan berdaya saing di pasar dalam dan luar negeri. Melihat begitu tingginya impian yang ingin dicapai oleh MASKIBBU sehingga diperlukan koridor yang dapat memberikan arah atau misi berupa : pertama, menyelaraskan kebutuhan dan ketersediaan input dan output produk industri; kedua, meningkatkan daya saing melalui efisiensi biaya; ketiga, membangun akses dan jejaring untuk menciptakan iklim usaha; keempat, memfasilitasi layanan bisnis; kelima meningkatkan kemitraan yang saling membutuhkan dan menguntungkan.
Meskipun MASKIBBU baru seumur jagung, namun telah berhasil memberi masukan kepada Pemerintah khususnya Departemen Perdagangan untuk merubah kebijakan tentang distribusi pupuk yang semula hanya KUD dan distributor yang ditunjuk pabrikan untuk pendistribusian pupuk, namun kini Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) yang tergabung dalam Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) diperbolehkan menyalurkan pupuk bagi anggotanya. Hal ini merupakan suatu langkah positif dan maju serta sangat membantu bagi petani tebu untuk mendapatkan kebutuhan dan ketersediaan pupuk tepat waktu pada saat petani tebu membutuhkan.
Selain itu, baru baru ini MASKIBBU juga telah mengeluarkan pernyataan sikap kepada Pemerintah yang pada intinya adalah rasa keprihatinan atas membajirnya gula rafinasi di pasar konsumen, sehingga MASKIBBU mendesak kepada Pemerintah Pusat khususnya Departemen Perdagangan untuk menarik dan melarang peredaran rafinasi di pasar konsumen dan konsisten dengan tetap mempertahankan kebijakan tentang tata niaga gula dalam negeri seperti diatur dalam SK Memperindag no. 527/MPP/Kep/9/2004 yaitu bahwa gula rafinasi hanya untuk Industri makanan dan minuman. Selain itu MASKIBBU juga meminta Pemerintah mengeluarkan aturan kepada semua distributor gula rafinasi untuk memberikan tulisan “ hanya untuk industri, tidak dijual untuk umum” pada setiap kemasan gula rafinasi.
Diatas sudah kami sebutkan bahwa MASKIBBU sebagai organisasi indepent, keanggotanya terbuka bagi semua komponen yang berkepentingan dengan industri berbasis tebu serta masyarakat yang mempunyai kepedulian untuk turut membantu pemerintah dalam mengembangkan industri mulai dari hulu sampai hilir. Untuk itu kami selaku anggota pengarah MASKIBBU mengajak kepada elemen masyarakat baik secara organisasi maupun pribadi yang mempuyai keahlian dan kepedulian di bidang industri di bidang tebu dan turunannya untuk bergabung dengan MASKIBBU, dan dapat mendaftarkan ke sekretariat MASKIBBU di PTPN X Surabaya jl. Jembatan Merah no.3-9 Surabaya. Ditunggu!

————–bgs————–

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI BERBASIS TEBU DI JAWA TIMUR”

RSS Feed for bagasyulistyatis Comments RSS Feed

tolong donk, kirimkan saya proses, bahan dan cara pengolahan ampas tebu menjadi pupuk ataupun bahan lain yang bernilai ekonomis. hatur nuhun


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: