KELANGKAAN PUPUK MENGANCAM SWASEMBADA GULA

Posted on Maret 10, 2009. Filed under: Uncategorized |

dscn0309KELANGKAAN PUPUK MENGANCAM SWASEMBADA GULA

Oleh : Dra.Bagas Yulistyati S, MSi
Anggota Kajian Ambtenar Prop. Jatim

Suara gaduh dan suasana tidak terkendali bahkan ada ibu-ibu sampai terjatuh bangun serta terlihat orang-orang tua yang anarkis merusak rolling door sebuah KUD di Banyumas berdesakan dan berebut membeli pupuk bersubsidi dari Pemerintah, pemandangan tersebut terlihat jelas pada berita di salah satu TV swasta nasional pada hari Kamis pagi tanggal 4 Desember 2008. Hal tersebut membuat penulis tak habis berpikir dan benar – benar merasa prihatin dengan nasib petani hanya untuk membeli pupuk saja sudah berjuang.
Pemandangan tadi mencerminkan betapa parahnya kelangkaan pupuk sudah melanda beberapa daerah di negera tercinta ini, karena pemandangan tersebut bagi penulis merupakan puncak dari pemandangan dan berita tentang kelangkaan pupuk khususnya di Jawa Timur seperti adanya penghadangan truk muatan pupuk, adanya kepala desa yang didemo petani, sampai polisi mengawal truk bermuatan pupuk, upaya sweping petugas pada gudang-gudang yang ditengarai menimbun pupuk bersubsidi. Para petani harus berjuang keras bak orang miskin berebut sembako gratis atau berebut daging hewan kurban. Sungguh suatu ironi yang terjadi di negeri agraris seperti Indonesia yang nota benenya sangat membutuhkan pupuk untuk kelangsungan produksi padi guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Secara teori, permasalahan mendasar dari penyebab kelangkaan pupuk selain ketidakseimbangan supply and demand pupuk adalah adanya perubahan pandangan fungsi pupuk yang semula pupuk sebagai barang kebutuhan pokok petani menjadi barang komoditi dan bahkan menjadi barang politis. Pada saat pupuk hanya dipandang sebagai kebutuhan pokok petani, permasalahan kelangkaan pupuk jarang kita temui, tapi setelah pupuk dipandang oleh para pelaku pasar sebagai barang komoditi kelangkaan pupuk terasa dimana-mana dan lebih parah lagi jika pupuk sudah dipandang sebagai barang politis selain pupuk akan menghilang akan terjadi ketidakpercayaan terhadap pemerintah yang dianggap tidak bisa mensejahterakan petani.
Sedangkan menurut pengamatan pemerintah penyebab kelangkaan pupuk antara lain : (1) Kebiasaan petani memupuk dengan dosis diatas yang dianjurkan oleh Departemen Pertanian per Ha sawah hanya butuh pupuk 250 Kg tetapi faktanya petani sering memakai 400 – 600 kg. (2) Jumlah kebutuhan teknis suatu daerah lebih tinggi dari jumlah pupuk yang dapat disediakan oleh Pemerintah, hal ini terjadi dari kesalahan perencanaan kebutuhan selama ini. (3) Besarnya tingkat disparitas harga antara harga sektor subsidi dan non subsidi. Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk urea 60 Rb/50 Kg atau Rp.1200 / Kg dilapangan meningkat sampai Rp.140.000,00 – Rp.150.000,00 per 50 Kg, (4) Permainan distributor yang berusaha mengambil kesempatan disparitas harga, (5) Kendala transportasi, (6) Bencana banjir menyebabkan petani melakukan pemupukan ulang sehingga kebutuhan pupuk meningkat.
Secara umum pengaturan distribusi pupuk, khususnya pupuk bersubsidi telah dipayungi dengan : (1) Peraturan Presiden No. 77 Tahun 2005 tentang Penetapan Pupuk Bersubsidi Sebagai Barang Dalam Pengawasan, (2) Permendag No. 21/M-DAG/PER/6/2008 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian, dan (3) Permentan No. 76/Permentan/OT.140/12/2007 tentang Kebutuhan dan Harga Eceran Teringgi (HET) Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2008 jo. Permentan no. 29/Permentan/OT.140/6/2008.
Akibat kelangkaan pupuk yang berlarut-larut tersebut membuat sebagian petani di suatu daerah terpaksa mencabuti tanaman padinya karena mereka sudah pesimis dan beranggapan percuma tanaman padi dipertahankan jika pupuk tidak ada pasti tidak akan berhasil, bahkan ada juga petani yang mengganti pupuk urea dengan garam dapur padahal tindakan ini tidak akan menolong bahkan merugikan petani sendiri. Tapi ada juga petani yang tetap optimis menggunakan pupuk organik atau ada yang mengurangi pupuk.
Melihat permasalahan kelangkaan tersebut di atas, penulis merasa pesimis target pemerintah untuk swasembada gula nasional di tahun 2009 dengan menambah produksi gula sebesar 1.000.0000 (satu juta) ton dari produksi gula nasional melalui peningkatan kapasitas giling pabrik dan produktivitas lahan dengan didukung kebijakan investasi, jaminan areal dan deregulasi perundangan termasuk ketersediaan pupuk, dan pembatasan pabrik gula rafinasi yang berbahan baku gula mentah impor akan tercapai.
Tebu sebagai bahan baku gula juga sangat tergantung akan ketersediaan pupuk mengingat kebutuhan pupuk untuk tanaman tebu per Ha mencapai 600 – 800 Kg pupuk ZA, 150 – 200 Kg pupuk SP – 36 dan Pupuk KCl sebanyak 100 – 150 Kg. Jikalau pupuk untuk kebutuhan pangan saja tidak mencukupi (langka) apalagi pupuk untuk tebu. Kekhawatiran penulis didasarkan atas kebijakan pemerintah terhadap pupuk nasional yang memprioritaskan (1) pupuk untuk Sektor tanaman pangan, (2) Sektor industri untuk penyerapan TK, (3) Perkebunan termasuk tebu dan (4) Baru diekport.
Jawa Timur sebagai salah satu sentra tebu merupakan salah satu propinsi penghasil utama gula di Indonesia. Pada tahun 2008 total luas areal tebu Jatim mencapai 205.912 ha, terdiri atas Tebu Sewa seluas 32.772 ha dan Tebu Rakyat seluas 173.140 ha. Sementara, kebutuhan pupuk N-P-K (dosis ≈ 8:2:2) mencapai yaitu: 164.729 ton ZA, 41.182 ton TSP dan 41.182 ton KCl.
Dari areal tebu tersebut diperkirakan akan dihasilkan tebu sekitar 17.138.055 ton dan hasil gula lebih dari 1,50 juta ton. Sejumlah gula tersebut hasil produksi dari 31 Pabrik Gula (PG) yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak kurang lebih 98.412 orang yang tersebar pada 16 Kab/Kota di wilayah Jatim.
Melihat kenyataan ini Maskibbu atau Masyarakat Klaster Industri Berbasis Tebu sebuah wadah stakeholder industri berbasis tebu yang dideklarasikan di Surabaya pada tanggal 21 Nopemebr 2007 bekerjasama dengan Dinas Perindag. Propinsi Jawa Timur mencarikan upaya mengatasi kelangkaan pupuk khususnya untuk membantu petani tebu melalui suatu lokakarya. Dalam ksempatan tersebut berhasil merumuskan beberapa hal yang akan ditempuh dan direkomendasikan kepada pemerintah adalah : Pertama, Alokasi pupuk untuk tebu perlu dipisahkan dengan komoditas pertanian lain, khususnya padi, untuk mencegah terjadinya pergeseran peruntukan sehingga prinsip 6 tepat (waktu, harga, mutu/dosis, sasaran dan jumlah serta tempat dalam pengadaan mulai lini I samapi lini IV untuk pemupukan tebu dapat dipenuhi. Kedua, Perlu dilakukan penyempurnaan atau revisi terhadap pola tata niaga dan distribusi pupuk bersubsidi dengan memperpendek rantai/jalur distribusi pupuk untuk tebu di Jawa Timur melalui penghilangan Gudang Lini II dan lini IV. Ketiga, Untuk penyempurnaan pola tata niaga dan distribusi pupuk bersubsidi khusus tebu diperlukan payung hukum berupa Surat Keputusan (SK) Gubernur. Agar tidak merubah peraturan pemerintah dan tidak terjadi benturan kepentingan, maka SK Gubernur tersebut harus mengacu pada Permendag Nomor : 21/M-DAG/PER/6/2008. Keempat, Perlu SK Gubernur yang menyatakan bahwa KPTR yang telah mendapat rekomendasi dari Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR), PG pembina dan produsen pupuk harus diterima / direkomendasi oleh Pemda (Bupati/Walikota) sebagai Distributor pupuk bersubsidi untuk tebu di wilayah ybs. Kelima, Perusahaan Pembimbing atau pengguna seperti PTPN X, PTPNXI, RNI dan Pg. Kebonagung ikut bertanggung jawab terhadap penyediaan pupuk dan gudang penyimpanan pupuk bagi petani, termasuk dukungan pendanaan atau talangan untuk menebus pupuk sebelum KKP cair. Keenam, Untuk segera mewujudkan adanya dukungan pendanaan dari Perusahaan Pembimbing maka Maskibbu akan memfasilitasi pertemuan antara Direksi PTP / PT Gula, Produsen pupuk, Perbankan dan APTR/KPTR. Ketuju, Mengintensifkan kembali peran perusahaan pembimbing (PTP / PT Gula) sebagai Pimpinan Kerja Operasional Lapangan (PKOL).
Harapan Maskibbu termasuk penulis yang juga anggota, semoga kelangkaan pupuk segera diatasi oleh pemerintah dan khususon pupuk untuk tebu harus juga dijamin ketersediaanya, mengingat tanpa pupuk tebu juga tidak akan berhasil baik yang pada akhirnya swasembada gula hanya impian saja.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: