POTRET PEREMPUAN JAWA TIMUR

Posted on Maret 12, 2009. Filed under: Uncategorized |

POTRET PEREMPUAN JAWA TIMUR
Oleh ; Dra. Bagas Yulistyati S, Msi

Ibu kita Kartini putri sejati
Putri Indonesia harum namanya
Ibu kita Kartini pendekar bangsa
Pendekar kaumnya untuk merdeka

Wahai Ibu kita Kartini putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia

Kartini (WR. Supratman)

Syair lagu itu selalu kita dengar dikumandangkan setiap tanggal 21 April mengiringi peringatan hari kelahiran RA. Kartini yang dilahirkan di Mayong – Jepara tahun 1879 yang lalu, kemudian dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita Indonesia karena RA. Kartini sebagai perintis jalan kemajuan kaum perempuan dan dipandang berjasa besar bagi kaum wanita meskipun jasanya belum dapat diwujudkan pada masa hidupnya atau dengan kata lain RA. Kartini belum sempat melihat cita-citanya terwujud. Tetapi perempuan Indonesia sangat berhutang budi pada RA. Kartini dan berkewajiban untuk meneruskan cita-citanya karena itu sudah wajar jika setiap kelahiran selalu diperingati seluruh wanita mulai dari tingkat Taman Kanak Kanak (TK), Sekolah Dasar, Sekolah Lanjut Tingkat Pertama dan Sekolah Menengah Umum, Perguruan Tinggi serta kantor-kantor pemerintah dan swasta dengan berbagai cara mereka masing-masing yang pada intinya untuk menghormati RA. Kartini.

Banyak kemajuan telah dicapai oleh wanita Indonesia, hampir seluruh sector kegiatan telah dirambah oleh perempuan mulai dari sector informal dan formal, mulai dari yang bersifat feminin dan biasa dikerjakan oleh perempuan hingga ke sector yang lazimnya dikerjakan oleh laki-laki, mulai sari bidang politik, ekonomi, social, budaya, pendidikan, kesehatan dan lain-lain hingga bidang keamanan. Dan harus diakui bahwa perempuan Indonesia jika dikasih kesempatan dan akses yang sama dengan laki-laki akan memiliki kemampuan dan kompetensi yang tidak berbeda dengan laki-laki, bahkan kadang-kadang menggeser perhatian masyarakat terhadap tokoh laki-laki sebagaimana telah dibuktikan oleh Ibu Megawati mampu menjadi presiden Indonesia serta wanita-wanita lain yang menjadi kepala daerah. Salah satu kelebihan dari perempuan dibanding laki-laki adalah sifat ketekunan dan keuletan serta kesabaran yang dimilikinya, sehingga dengan kelebihan ini perempuan mampu melebihi laki-laki seperti DR. Pratiwi Sudarmono calon astronot Indonesia meskipun tidak jadi keluar angkasa karena pesawatnya keburu meledak tetapi berdasarkan seleksi yang sangat ketat berhasil mengungguli laki-laki.

Menurut Toty Heraty (2003) Kaum perempuan Indonesia sudah berhasil menjinakkan budaya patriarki, sehingga seminar-seminar dengan topik kesetaraan jender dan dominasi budaya patriaki sudah lewat dan tidak pas lagi, hal ini disebabkan karena sesuai kenyataan kaum perempuan telah terjun diberbagai bidang dengan profesi dan profesionalisme yang telah teruji.

Meskipun perempuan Indonesia telah berhasil membuktikan bahwa perempuan Indonesia mampu menjadi pimpinan tertinggi negeri ini seperti presiden Megawati, menteri kabinet dan kepala daerah, bukan berarti perempuan Indonesia tidak mempunyai permasalahan lagi, masih banyak permasalahan yang dihadapai perempuan mulai dari kekerasan, pelecehan, ketidakadilan hingga dimarjinalisasikan dan diskriminasi diberbagai bidang kehidupan harus diperjuangkan.

Banyak kemajuan dicapai perempuan Indonesia terutama mulai saat menteri pemberdayaan perempuan Khofifah Indar Parawangsa menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan yang tercermin dari program-program dan gagasannya mulai dari : dikembangkannya partisipasi laki-laki dalam Keluarga Berencana (KB), mengembangkan pengarusutamaan jender ( jender mainstreaming) , mengintegrasikan program-program bersifat jender ke bidang-bidang lain, bekerjasama dengan LSM dan pihak terkait melindungi dan memantau TKW diluar negeri, mengusulkan kuota 30% untuk perempuan di bidang politik/partai untuk menyeimbangkan kompetisi antara laki-laki dan perempuan di politik formal karena selama ini bidang politik sepertinya alergi untuk dimasuki perempuan sehingga prosentasenya sangat kecil, meskipun ada pro dan kontra untuk itu. Bagi yang pro kuota 30% beralasan untuk “memaksa” perempuan memasuki bidang politik dan untuk mengurangi dominasi laki-laki di bidang politik, sedangkan bagi yang kontra biasanya kelompok ini telah memiliki kompetensi sama dengan laki-laki beranggapan bahwa kuota 30% merupakan pelecehan bagi perempuan karena perempuan tidak diukur kompetensinya tetapi hanya untuk memenuhi kuota atau “ dipaksakan “ untuk melengkapi meskipun kompetensinya tidak memenuhi syarat.

Keseriusan pemerintah dalam upaya pemberdayaan perempuan tercermin dengan dikeluarkannya Inpres Nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Jender (PUJ) dalam Pembangunan Nasional yaitu suatu strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan jender melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan pembangunan. Dengan tujuan untuk memastikan apakah perempuan dan laki-laki memperoleh akses kepada, berpartisipasi dalam, mempunyai kontrol atas, dan memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan atau dengan kata lain untuk mempersempit dan bahkan meniadakan kesenjangan jender.

Melihat kemajuan yangn telah dicapai oleh perempuan Indonesia pada umumnya sebagaimana diatas, kemudian bagaimana dengan perempuan Jawa Timur ?
Pemerintah Propinsi Jawa Timurpun sama seriusnya dengan Pemerintah Pusat, terbukti dengan dirumuskannnya program penyetaraan jender yang khusus untuk pemberdayaan perempuan yang dituangkan dalam Rencana Strategis Daerah tahun 2001 s/d 2005. Adapun kegiatan-kegiatan yang telah dan akan dilakukan meliputi antara lain : melakukan pelatihan perempuan dalam bidang kewiraswastaan, penyebaran informasi tentang hak-hak serta perlindungan social bagi perempuan yang diperlakukan salah, mensosialisasikan dan mengimplementasikan perlindungan hukum dan penegakan HAM perempuan, memfasilitasi reinterpretasi ajaran agama yang berprostektif jender, sosialisasi kesetaraan dan keadilan jender, meminimalisasi /menetralisasi nilai-nilai social budaya yang menghambat kemajuan perempuan, memfasilitasi dan meningkatkan peranan lembaga yang memperjuangkan hak-hak perempuan untuk menuju kesetaraan dan keadilan jender.

Jika program telah ada dan kegiatan-kegiatan telah dilaksanakan, bagaimana dengan pendanaan ? seberapa prosen dana yang dialokasikan untuk pemberdayaan perempuan ? dalam hal ini penulis mohon maaf karena tidak mempunyai cukup data untuk menggambarkan guna menjawab pertanyaan ini. Tetapi sebagai gambaran dalam satu tahun terakhir (2003) dana yang dialokasikan oleh pemerintah PropinsI Jawa Timur untuk pemberdayaan masyarakat sebesar Rp.11.405.825.000,00 diluar program pengentasan kemiskinan dari dana tersebut 21,04% atau sebesar Rp. 2.400.000.000,00 khusus diperuntukkan untuk pengembangan pemberdayaan perempuan.

Jika dibandingkan dengan struktur penduduk Jawa Timur (BPS 2000), penduduk perempuan sebanyak 54% dan laki-laki 46%, maka dana yang dialokasikan tersebut dirasakan masih kurang. Tentu saja dukungan dari Pemerintah Kota/Kabupaten sangat diperlukan, bukankah pemberdayaan masayarakat dan perempuan menjadi tanggungjawa bersama antara Pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota serta masyarakat ?

Human Development Index (HDI) atau Indek Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Timur menempati urutan ke-22 dengan nilai 61,8% sedangkan Gender Development Index (GDI) atau Indek pembangunan jender Jawa Timur menempati urutan 23 dengan nilai 53,2% dan Gender Empowerment Measures (GEM) atau Indeks pemberdayaan perempuan Jawa Timur menempati posisi ke-4 nasional dengan nilai 54,4%

Sebagai gambaran potret kondisi social ekonomi perempuan Jawa Timur adalah :
1. Komposisi penduduk perempuan berdasarkan usia perkawinan pertama meliputi : kurang 15 th (21%), 16-17 th (40,75%), 18-19 th (32,645 dan 20 keatas 5,61%.( Jatim dalam Angka 2000)
2. Komposisi usia harapan hidup (Susenas 2001) laki-laki 62,62 tahun dan perempuan 66,45 tahun.
3. Komposisi tenaga kerja ( Susenas 2000) laki-laki 15% dan perempuan 85%.
4. Komposisi penduduk perempuan menurut tingkat pendidikan (Jatim dalam angka 2000) : tamat SD (49,26%), tamat SLTP (47,7%) tamat SLTA (46%).
5. Perbandingan keanggotaan dalam parlemen laki-laki 88,9% dan perempuan 11,1% sedangkan perempuan sebagai tenaga professional (manajer) 45,9% dan laki-laki 54,1% (BPS 2001).

Melihat kenyataan potret perempuan Jawa Timur tersebut, diperlukan kerja keras dari seluruh komponen masyarakat untuk meningkatkan keberdayaan perempuan, karena perempuan adalah penentu masa depan dan kenyataan membuktikan jika dari perempuan yang mempunyai bargaining posisition tinggi atau diakui kesetaraan jendernya akan melahirkan generasi yang berkualitas. Semoga!

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: