IKM JATIM MEMERLUKAN PUSAT DESAIN

Posted on Maret 18, 2009. Filed under: Uncategorized |

IKM Jatim Memerlukan Pusat Desain
Oleh : Dra. Bagas Yulistyati S, MSi
(Anggota Tim Kajian Ambtenar Pemprop. Jatim)

Berawal dari dibukanya pasar bebas bagi negara-negara anggota ASEAN pada 1 Januari 2002 atau tepatnya diberlakukannya AFTA (ASEAN Free Trade Area), dan harus diakui bahwa produk kita khususnya Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) kurang mampu bersaing dengan produk luar dari RRC terbukti dalam tiga tahun terakhir menurut data Disperindag Propinsi Jatim neraca perdagangan kita selalu defisit dan surplus bagi RRC.

Pada tahun 2001 neraca perdagangan kita minus 180.666.821,24 dollar AS; tahun 2002 defisit minus 184.266.986,48 dollar AS. Kita tidak bisa menutup mata melihat kenyataan bahwa produk RRC tampil dengan desain dan warna yang sangat cantik dan lucu apalagi dengan harga terjangkau, meski kualitasnya patut dipertanyakan.

Peluang ini telah ditangkap para importir dan pedagang, sehingga dalam waktu relatif singkat barang-barang produksi RRC sudah merambah di pusat-pusat perbelanjaan bahkan bermunculan Factory Outlet (FO) yang khususnya menjual produk-produk tersebut, sehingga menyalahi konsep FO sendiri yang semula ditujukan untuk menjual barang-barang langsung dari pabrik dalam negeri.

Untuk memasuki pasar bebas yang notabenenya adalah penerapan mekanisme pasar sempurna, mensyaratkan standarisasi dan penerapan HAKI menuntut industri khususnya UKM dan IKM untuk menghasilkan desain-desain produknya sendiri (kerajinan, perlengkapan rumah tangga, garment, furniture dan lain-lain) dan memiliki corporate identity seperti logo, merk dagang, company image dan packaging yang mempunyai fungsi perlindungan produk dari faktor eksternal.

Seperti fungsi produksi, yakni adanya perhitungan biaya produksi yang efektif, fungsi distribusi sehingga mempunyai kemudahan dalam pendistribusian dan penyimpanan, berfungsi sebagai media informasi tentang produk, fungsi ergonomi artinya barang mudah dibawa dan dibuka untuk diambil isinya, fungsi estetika memiliki daya tarik visual, dan sebagai identitas produk, serta mempunyai ciri khas yang mempunyai daya saing tinggi.

Hal itu tentu saja menjadi tantangan yang sangat berat bagi para produsen khususnya UKM untuk berpacu meningkatkan mutu dan daya saing, para produsen tidak dapat berharap banyak apalagi mengandalkan rasa nasionalisme dari masyarakat untuk mencintai produksi dalam negeri tetapi harus mulai menata ke dalam.

Penataan tersebut jelas tidak mudah, membutuhkan kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak khususnya pemerintah dan masyarakat. Sudah banyak upaya dan program dari Pemprop. Jatim yang ditujukan untuk membantu UKM dan IKM mulai dari penciptaan iklim usaha yang kondusif, pelatihan-pelatihan yang bersifat teknis, kelembagaan dan administrasi atau non teknis, penyediaan fasilitas standarisasi dan HAKI hingga bantuan modal kerja.

Terlepas seberapa besar dan seberapa efektifkah hasil telah dicapai dari berbagai upaya Pemprop. Tersebut, permasalahan klasikyang secara umum masih dikeluhkan UKM dan IKM antara lain : adanya keterbatasan modal, desain yang sederhana dan kurang menarik, pemasaran terbatas, kemasan (packaging) yang sangat sederhana, kelembagaan dan administrasi masih konvensional, jaringan dan akses perbankan relatif rendah. Namun disamping kelemahan tersebut, IKM juga memiliki kekuatan bertahan seperti : memiliki tingkat kemandirian usaha, semangat dan keuletan serta tingkat kerjasama dan gotong royong relatif kuat.

Pada saat ini permasalahan desain produk menjadi sangat mendesak untuk dicarikan solusinya karena kebanyakan UKM dan IKM belum memiliki desain produknya sendiri dan corporate identity, sehingga peningkatan mutu dan desain perlu diprioritaskan mengingat konsultan desain yang ada dirasakan oleh UKM dan IKM masih sulit dijangkau karena tarifnya tergolong mahal.

Untuk itu sudah saatnya Pemprop. Jatim mendirikan pusat desain yang inovatif dan terjangkau oleh UKM dan IKM, yang bertujuan antara lain untuk ; membantu UKM dan IKM membuat desain dan corporate identity, memberikan pelatihan teknis dan advokasi kepada UKM dan IKM dalam mengembangkan desain produknya agar dapat memenuhi permintaan dan persyaratan pasar, melakukan pendekatan dan kerjasama pada komunitas industri serta meningkatkan kesadaran (awareness) masyarakat tentang peran desain yang besar pengaruhnya terhadap nilai suatu produk (product value).

Pusat desain yang akan dibentuk nanti dapat dimanfaatkan dan membantu bagi 628.448 unit Industri Kecil Menengah terdiri atas Industri Kecil dan Kerajinan rumah tangga yang mencapai 97,76% dari jumlah industri di Jawa Timur sebanyak 642.848 buah dengan 2.341,112 orang tenaga kerja. Sedangkan penyerapan tenaga kerja pada sektor industri kecil dan kerajinan rumah tangga mencapai 59,915% (1.402.560 orang) dibanding industri besar dan sedang yang hanya menyerap tenaga kerja sebanyak 40,09% atau sebanyak 938.552 orang. Sedangkan jika dilihat pertumbuhan nilai investasinya, IKM ini menunjukkan lebih tinggi (1,51%) dibandingkan industri besar dan sedang (0,97). Sebagaimana dapat dicermati pada table perkembangan industri di Jawa Timur.
Dalam pembentukkan pusat desain tersebut Pemprop dapat melibatkan para seniman dan mengambil tenaga lulusan para seni dan desain, sekaligus untuk melibatkan mereka dalam pembangunan karena selama ini terkesan para seniman bekerja dari seni untuk seni. Dengan demikian nantinya seni juga dapat dinikmati oleh masyarakat. Tentu saja dalam pusat desain tersebut selain terdapat kegiatan pokok juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti ; diskusi dan seminar, pelatihan membuat desain, apresiasi desain, pengembangan desain. Selain itu pusat desain harus bisa mengembangkan jaringan dengan berbagai asosiasi profesi desain seperti ADGI (grafis), ADPI (produk), ADII (interior), FPI (Kemasan), APPMI (fashion), ADTI (tekstil) dan lain-lain.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “IKM JATIM MEMERLUKAN PUSAT DESAIN”

RSS Feed for bagasyulistyatis Comments RSS Feed

bila ada masih tersedia tetes tetes pertamax bolehlah kita nampang lagi

salam hangat dan nice info

Tanpa bermaksud menegasikan faktor makro yang mempengaruhi daya saing UKM sektor konveksi, saya coba menawarkan konsep pengembangan UKM berbasis pada pendekatan kluster. kalau selama ini sentra industri (kluster) hanya di dipahami sebagai kumpulan UKM di suatu daerah maka sebenranya pendekatan kluster menawarkan potensi yang lebih besar yang dapat mendongkrak daya saing UKM.

Saya setuju dengan konsep bapak, bahwa pendekatan klastes bisa juga untuk mengembangkan UKM.
Di Jawa Timur pendekatan klaster digunakan untuk mengembangkan industri. Lima klaster industri di Jawa Timur meliputi :
1.klaster alas kakai di daerah sekitar jombang,
2.klaster gemopolis atau perhiasan di sidoarjo dan surabaya
3.Klaster perkapalan di Lamongan
4.Klaster berbasis gula
5.Klaster makanan minuman.

Pada suatu kesempatan saya pernah berdiskusi dg staf dari Disperindag dan DiskopUMKM Jatim tentang konsep kluster industri tapi nampaknya kita belum”sepakat” dengan konsep kluster yg ada. Pendekatan kluster yg didesain nampaknya masih bersifat parsial dan top down sehingga kurang mampu merangsang keterlibatan aktif para pelaku (baik IKM maupun industri besar sbg leading firmnya), bahkan pelaku IKM yang notabene merupakan sebagian besar pelaku merasa tidak menjadi bagian dari kluster.

Pengembangan kluster hendaknya didukung dengan inducement policy yg mendorong terciptnya efisiiensi bersama diantara anggota kluster. Studi yg dilakukan Pak Kacung (UNAIR) maupun riset yng sedang saya lakukan nampaknya menunjukkan bahwa kebijakan kluster belum berdampak pada pengembangan kluster baik di tingkat makro (lingkungan bisnis), meso (hubungan antar pelaku) maupun mikro (kinerja IKM). Padahal beberapa studi (baik di negara maju maupun negara berkembang) menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah berkontribusi pada pengembangan kluster simultan dg faktor internal (mis. modal sosial).

maturnuwun


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: